Sekilas Tentang band SORE

April 9, 2008 at 3:34 pm (seklias tentang band sore)

KALAU ADA band dari Indonesia yang albumnya direkomendasikan oleh majalah asing sebagai album yang “wajib” dimilik, mungkin SORE adalah pemiliknya. Untuk ukuran perjalanan waktu, SORE termasuk band yang kenyang dengan beban msuikal. Sampai akhirnya, pada satu titik mereka sepakat untuk menggabungkan pemikiran dan menuangkan segala jenis beban mereka dalam bentuk musik.

SORE berasal dari persahabatan tiga personil, Awan Garnida, Ade Firza, dan Ramondo Gascaro. Mereka awalnya adalah sekumpulan anak muda yang sekolah di Perguruan Cikin [PerCik] Jakarta. Entah sudah sepakat atau tidak, mereka bertiga juga melanjutkan sekolah di Los Angeles bersamaan. Sampai akhirnya tahun 1991, Awan Garnida kembali ke Indonesia. Saat itulah, Awan bertemu dengan Gustri Pramudya dan mengajak bergabung dalam satu project musik.

Pertengahan 1996, dua sahabat Ade Firza dan Ramondo Gascaro kembali ke Indonesia dan bergaung dengan Awan Garnida dan Gusti Pramudya untuk membentuk suatu proyek musik yang dinamakan BAHAGIA. Sayang, proyekc tersebut tidak berjalan semenstinya lantaran Ade Firza harus kembali Amerika merampungkan studinya. Tapi justru disaat Ade Firza pergi itulah,l konsep SORE muncul. Gara-garanya Ade meninggalkan satu konsep lagu berjudul Awan Lembayung. Lagu inilah yang kelak mendasari lahirnya SORE.

Sampai akhirnya, semua personilnya menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia. Ade pun balik dan bergabung lagi dengan teman-temannya. Malah ada nama baru Reza Dwiputratno di posisi gitaris. Akhirnya, SORE lahir dan membaur dalam bentuk pop dengan sentuhan absurd-electric.

Kiprah SORE agak unik. Mereka membebaskan kepada masing-masing personil untuk bekembang dengan karater sendiri yang bertanggungjawab. keunikan ini bisa kita simak dalam penggarapan album CENTRALISMO.Album yang –konon– didedikasikan untuk wilayah Jakarta Pusat [maklum, semua personilnya nyaris semua tinggal di Jakarta Pusat]. Dalam album ini, semua personilnya kebagian jatah menyanyi. Tentu saja mereka punya karakter yang berbeda-beda, tapi itulah yang membuat band ini unik. Milsanya single pertama LIHAT. Ketiga penciptaanya Ade Firza, Ramondo Gascaro, dan Gusti Pramudya bersatu dan menjadikan lagu ini seperti rock retro. Apalagi kalo kita melihat single kedua Somos Libres, makin mengukuhkan band ini sebagai band bersama.

Yang menarik, majalah TIME Asia edisi September 2005 merekomendasikan album CENTRALISMO ini sebagai “5 Asian Albums Worth Buying”. SORE bersanding dengan Anosha Shankar [album Rise], Tamio Okuda [album Comp], Midival Punditz [album Midival Times], dan Eason Chan [album U87]. Album-album “aneh” ya? Bukan ane, karena album-album ini dipilih dengan asumsi karya musik yang apik dan memang berkualitas untuk dikoleksi.

Sebelum merilis CENTRALISMO yang full album, SORE sempat merilsi mini album berjudul AMBANG [2003] dan tiga single yakni Etalase [2002], Cermin [2004], dan Funk The Hole [2005]. Cermin sendiri masuk kompilasi JKT:SKRG rilisan Aksara Record. Kemudian Funk The Hole masuk dalam kompilasi OST Janji Joni, flm yang dibintangi oleh Nicholas Saputra beberapa waktu lalu.

SORE menjadi satu alternatif musik yang mencoba mencuri dengar. Mereka tak terobsesi meledak dan “harus” terjual jutaan kopi [kalau bisa sih syukur ya..]. Mereka ingin, karya mereka menjadi oase yang menyegarkan di tengah keseragaman karya banyak musisi. SETUJUKAH ANDA??

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Terbentuknya band THE SASTRO

April 9, 2008 at 3:29 pm (TERbEnTUknYa bAnd The sAstRo)


Berawal dari sebuah acara kampus bernama Oktaria , yang merupakan sebuah acara sakral yang lebih bersifat senang-senang di sebuah pantai Anyer, terbentuklah sebuah band bernama The Sastro, dimana pada acara tersebut merupakan pertama kalinya para mahasiswa senirupa IKJ ini melakukan shownya. Pertunjukan pertama kali tersebut, juga ditetapkan sebagai hari lahirnya The Sastro, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2001. The Sastro juga lahir secara tidak sengaja, akibat dari kemalangan para mahasiswa senirupa ini ketika tertinggal dari rombongan pertama untuk pergi ke anyer. Untuk melupakan kekesalannya, Ritchie akhirnya mengajak Sastro untuk membentuk suatu band yang membawakan lagu-lagu ciptaan Sastro. Merasa kekurangan orang, akhirnya mereka mengajak Rege untuk menempati posisi drum dan Ari Buy untuk posisi bass guitar.

Dalam sebuah ruangan kelas kuliah Seni grafis murni, akhirnya mereka memulai latihannya pertama kalinya dengan hanya ditemani 3 buah gitar dimana 1 gitar beralih fungsi menjadi bass, dan 1 gitar lainnya tidak memenuhi syarat sebagai sebuah gitar karena 2 senarnya putus. Setelah memahami karakter dari lagu-lagu ciptaan Sastro, akhirnya mereka sepakat untuk mencoba latihan dalam studio musik di sekitar belakang kampus selama satu jam.

Berbagai macam jenis nama telah terlontar dalam pikiran masing-masing personel untuk sebuah nama band, diantaranya Street patrol , Gramaphone Sister , dan lain sebagainya. Nama The Sastro bukanlah terbentuk berdasarkan nama sebuah sosok Dian Sastro ataupun terjebak dalam sebuah bentuk narcists seorang Sastro. Nama tersebut terbentuk dikarenakan Ritchie merasa nama tersebut (The Sastro) memiliki karakter yang kuat juga memiliki struktur huruf vokal dan konsonan yang seimbang. Pertunjukan pertama kali tersebut berlangsung dengan sukses, banyak teman-teman kampus yang menyukai karakter musik dari The Sastro, baik senior maupun mahasiswa baru. Ajakan-ajakan dari rekan band kampus lainnya untuk kembali tampil dalam pentas panggung tidak ditolak oleh The Sastro. Adanya dorongan dari teman-teman merupakan semangat dari The Sastro untuk meningkatkan kualitasnya.

Semakin banyaknya tawaran untuk tampil dalam berbagai acara, akhirnya pada bulan Maret 2002, The Sastro memiliki seorang artist manager yang bernama Randy, yang mengurusi berbagai macam administrasi, perjanjian kontrak, promosi dan lain sebagainya. Beberapa bulan setelah itu The Sastro sempat menambah squad -nya dengan menambah additional player seperti Nanang pada guitar, dan Angga pada keyboards . Namun karena kesibukan Nanang pada salah satu bandnya akhirnya The Sastro hanya memiliki satu orang additiona l saja yaitu Angga sebagai keyboards yang juga terkadang sebagai additional guitar . Peran serta Nanang dapat didengar melalui lagu The Sastro yang berjudul Sejati dalam album kompilasi kampus 24 jam non stop hits , sedangkan peran serta Angga masih dapat didengar di beberapa lagu The Sastro pada album perdana ini.

Permalink 2 Komentar

sedikit cerita dari.. “gOodNiGhT eLeCtRic”

April 9, 2008 at 3:13 pm (ARTIKEL)

Goodnight Electric adalah sebuah proyek musik yang dikerjakan oleh Henry Foundation (voice/programmer) pada akhir tahun 2003 di Jakarta. Sebuah konsep musik studio yang menggunakan perangkat lunak (software) komputer sebagai media dalam menciptakan berbagai suara dan ritme yang menjadi materi utama pada musik yang dihasilkan oleh Goodnight Electric.
Bersama Bondi Goodboy (synthesizer/voice) dan oomleo (synthesizer/sequencer/voice), Goodnight Electric berkembang menjadi sebuah trio dance group yang menempatkan diri pada genre musik synth-pop di Indonesia.
Terinspirasi dari aliran musik pop, dance dan new wave di era 80 – 90′an dan mengagumi karya- karya musik dari Robert Smith (The Cure), Vince Clarke (Depeche Mode, Yazoo, Erasure) dan juga karya-karya musik dari band seperti Belle and Sebastian dan The Radio Dept., materi-materi musik yang dihasilkan oleh Goodnight Electric diharapkan dapat diterima oleh berbagai kalangan pecinta musik di tanah air.
Goodnight Electric formed by Henry Foundation right at the end of 2003 in Jakarta. A concept of music concentrated in synthpop genre. Inspired by musician in the early 80’s and 90’s such as Depeche Mode, Yazoo, The cure, Belle and Sebastian and The Lightning Seeds. Goodnight Electric combines elements from electro, pop and new wave using synthesizer and computer as the main tools. At first Goodnight Electric live performance supported by Bondi Goodboy and Oomleo, then evolves as a solid line up of trio dance group.
Goodnight Electric released their debut album “Love and Turbo Action” at the end of 2004 under independent label HFMF records with singles “Am I Robot?” and “Rocket Ship Goes By” which claimed appreciation and nods amongst the music heads, especially around the youth of Jakarta. Goodnight Electric performed in more than 100 stages between late 2004 to 2006, whether it’s in a club, live outdoors, college and indie events.This kind of top notch first steps wouldn’t be succeeded without the help of media partners and supportive scenes.Such as promoters from indie to electro scene and also loyal fans. As the result Goodnight Electric was nominated as Best New Artist at MTV Indonesia Music Award 2005, Best Live PA at Paranoia Award Hard Rock FM Jakarta 2005 and Best Indie Video at Anugrah Video Music Indosiar 2006.After succeeded in the first print, HFMF records repackage the “Love and Turbo Action” (silver album) in 2005. Along with remixes from Ape On The Roof, The Adams and Dj. Oreo At the end of 2005.
H.F.M.F Records kembali merilis ulang (repackage) album “Love and Turbo Action” (Silver Album) pada tahun 2005 dengan 3 tambahan materi Remix dari DJ. Oreo, Ape On The Roof, dan The Adams. Pada akhir tahum 2005 Goodnight Electric menandatangani kontrak dengan JTB Records, sebuah perusahaan rekaman dari Jepang untuk merilis “Love and Turbo Action” (Green Album) yang akan didistribusikan di Jepang pada awal tahun 2006; dengan tambahan 2 buah matrei lagu baru yang berjudul “T.E.C.H.N.O>LOGY” dan “Sci-fi Love”.

Permalink 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.